Permainan tradisional merupakan warisan budaya bangsa yang kaya akan nilai-nilai positif seperti edukasi, kerjasama, komunikasi, dan empati, serta dapat menjadi sarana penguatan identitas budaya. Namun seiring berjalannya waktu, permainan tradisional semakin ditinggalkan dan berdampak pada menurunnya interaksi sosial dan kecerdasan emosional anak.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, yang dipimpin oleh Dr. Raisye Soleh Haghia, S.Hum., M.Hum menghadirkan inovasi kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Revitalisasi Permainan Tradisional untuk Meningkatkan Interaksi Sosial dan Kecerdasan Emosional Anak Yatim Piatu dan Kurang Mampu di Tiga Panti Asuhan Non-Profit di Kecamatan Bogor Tengah”
Inovasi ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan dan bermanfaat bagi perkembangan anak, sekaligus mendukung perkembangan sosial dan emosional anak
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari riset untuk mengidentifikasi berbagai jenis permainan tradisional bangsa Indonesia, sosialisasi dan pelatihan kepada pengasuh panti mengenai pentingnya permainan tradisional, hingga implementasi permainan tradisional seperti congklak, gobak sodor, engklek, main karet, dan bekel dalam rutinitas harian anak-anak. Tim peneliti juga melakukan evaluasi terhadap dampak kegiatan melalui observasi langsung, kuesioner, serta wawancara dengan pengasuh dan anak-anak panti selaku penerima program

Gambar: Permainan Gobak Sodor oleh Anak Panti Asuhan Chandra Naya
Melalui kegiatan ini, peneliti berharap anak-anak dapat mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal peningkatan kemampuan komunikasi, kerjasama, empati, serta pengelolaan emosi. Selain itu, program ini juga diharapkan mampu mempererat ikatan sosial antara pengasuh dan anak-anak di panti asuhan. Hasil kegiatan kemudian didokumentasikan dan disebarluaskan sebagai model yang dapat diterapkan di panti asuhan lain, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan langsung oleh peserta, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian permainan tradisional sebagai warisan budaya bangsa.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi, Chairul Hudaya Ph.D, turut menyampaikan harapannya terhadap program ini. “Permainan tradisional bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan penguatan kecerdasan sosial-emosional anak. Saya berharap inovasi ini dapat menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak panti asuhan, sekaligus menumbuhkan nilai empati, kerjasama, komunikasi, dan rasa kebersamaan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, program seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi berbagai lembaga sosial maupun pendidikan dalam melestarikan budaya bangsa,” ujarnya
Melalui inovasi ini, permainan tradisional tidak hanya dihidupkan kembali sebagai bagian dari budaya Indonesia, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang mampu membangun karakter, memperkuat hubungan sosial, dan mendukung perkembangan emosional anak-anak secara berkelanjutan.
Penulis: Tiara Salsabila



