Perkembangan ekosistem e-commerce global menunjukkan pergeseran signifikan menuju era video-first, di mana konten berbasis video menjadi elemen kunci dalam menarik perhatian konsumen dan meningkatkan konversi penjualan. Platform seperti TikTok Shop, Shopee Video, dan berbagai fitur video commerce lainnya membuktikan bahwa video mampu menyampaikan nilai produk secara lebih efektif dibandingkan foto statis. Namun, peluang ini belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sebagian besar UMKM dan penjual online masih menghadapi berbagai kendala dalam memproduksi konten video pemasaran. Hambatan utama meliputi keterbatasan keahlian teknis seperti editing video, minimnya waktu di tengah operasional bisnis harian, serta tingginya biaya jasa profesional atau agensi kreatif. Kondisi tersebut menyebabkan banyak produk UMKM yang sebenarnya berkualitas harus kalah bersaing secara visual di pasar digital yang semakin kompetitif.
Menjawab tantangan tersebut, Videfly (PT Teknologi Terbang Tinggi) hadir sebagai startup berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan solusi otomatisasi pembuatan video pemasaran. Videfly dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan konten video berkualitas tinggi dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki UMKM, sehingga pelaku usaha dapat tetap relevan di era pemasaran digital berbasis video.
Inovasi utama Videfly terletak pada metode “Link-to-Video Generation”. Melalui metode ini, pengguna cukup menyalin tautan (URL) produk dari marketplace seperti Shopee, Tokopedia, atau TikTok Shop. Sistem AI Videfly kemudian secara otomatis mengekstraksi data produk, mulai dari foto, deskripsi, harga, hingga varian. Selanjutnya, teknologi generative AI akan menyusun storyboard, menghasilkan narasi voice-over, memilih musik latar yang sesuai, serta menerapkan animasi dan transisi visual berdasarkan karakter dan mood produk. Dalam hitungan menit, video pemasaran berkualitas tinggi siap diunduh dan digunakan di berbagai platform media sosial.

Gambar 1: Website Videfly
Videfly menawarkan sejumlah keunggulan strategis, antara lain memangkas waktu produksi hingga 90 persen dibandingkan metode manual (instant creation), tidak memerlukan keahlian desain grafis maupun videografi (zero skill required), serta menghadirkan solusi yang jauh lebih hemat biaya dibandingkan menyewa editor profesional atau agensi. Selain itu, seluruh aset visual dan musik yang digunakan bersifat copyright-free, sehingga aman untuk kebutuhan monetisasi. Video yang dihasilkan juga dirancang mengikuti algoritma penjualan media sosial, dengan fokus pada peningkatan konversi.
Melalui inovasi ini, Videfly mengusung tujuan besar untuk mendemokratisasi pemasaran video, khususnya bagi UMKM. Platform ini membuka akses yang setara bagi pelaku usaha kecil agar dapat memiliki materi promosi yang kualitasnya setara dengan brand besar. Di sisi lain, Videfly juga mendorong efisiensi bisnis dengan membantu pemilik usaha maupun agensi digital menghemat waktu dan biaya operasional dalam produksi konten rutin, sekaligus meningkatkan potensi omzet dan daya saing produk UMKM Indonesia di pasar global.

Gambar 2: Fitur Generate Video Videfly
Terkait pengembangan ke depan, Arsifa Deliyana menyampaikan bahwa Videfly akan terus berinovasi untuk memperluas dampaknya. “Ke depan, Videfly akan dikembangkan melalui integrasi teknologi AI Avatar sebagai presenter virtual serta dukungan multi-bahasa guna menjangkau pasar ekspor. Kami juga menargetkan Videfly dapat membangun ekosistem terintegrasi dengan menjadi plugin resmi yang terhubung langsung ke dalam dashboard marketplace utama di Asia Tenggara. Dengan pengembangan tersebut, kami berharap Videfly dapat menjadi alat standar atau go-to tool bagi setiap penjual online yang ingin memulai dan mengoptimalkan kampanye video marketing berbasis AI,” jelasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Chairul Hudaya, Ph.D., Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi (DIRBT) Universitas Indonesia, menegaskan bahwa Videfly merupakan contoh nyata startup inovatif yang tumbuh melalui ekosistem UI Incubate. Menurutnya, program UI Incubate berperan penting dalam mendorong akselerasi inovasi berbasis teknologi agar siap masuk ke pasar. “Melalui program UI Incubate, Universitas Indonesia secara konsisten mendorong lahirnya startup berbasis riset dan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan nyata industri dan UMKM. Videfly menunjukkan bagaimana dukungan inkubasi, pendampingan bisnis, serta penguatan jejaring strategis dapat mempercepat proses komersialisasi inovasi dan meningkatkan daya saing produk digital nasional,” ujarnya.
Dengan dukungan ekosistem inovasi Universitas Indonesia dan pemanfaatan teknologi AI, Videfly diharapkan dapat menjadi salah satu solusi strategis dalam memperkuat transformasi digital UMKM Indonesia serta menjadikan video marketing sebagai alat yang inklusif, efisien, dan berdampak luas.



