Safe Nasogastric Tube (SNGT) Inovasi Selang Lambung Aman dan Ekonomis dari Universitas Indonesia 

Pemasangan nasogastric tube (NGT) adalah prosedur medis untuk memasukkan selang ke lambung melalui hidung. Prosedur ini memiliki berbagai tujuan, mulai dari pemberian nutrisi pada pasien yang tidak mampu menelan, pemberian obat, hingga pengosongan isi lambung pada kondisi tertentu. Meskipun terkesan sederhana dan rutin dilakukan di rumah sakit, proses pemasangan NGT tidaklah bebas risiko. Umumnya, pemasangan NGT dilakukan tanpa bantuan pencitraan seperti fluoroskopi atau endoskopi, sehingga menjadi prosedur “buta”. Tenaga medis hanya mengandalkan keterampilan dan metode verifikasi konvensional, seperti auskultasi suara udara di lambung atau pemeriksaan pH aspirat lambung, yang baru bisa dilakukan setelah sebagian besar selang masuk ke tubuh. Keterlambatan verifikasi inilah yang membuka celah terjadinya malposisi. 

Kesalahan pemasangan NGT ke saluran pernapasan dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk cedera paru, pneumotoraks, infeksi berat, bahkan kematian. Data dari National Patient Safety Agency (NPSA) Inggris pada 2016 menunjukkan bahwa kejadian malposisi masih menjadi masalah yang signifikan. Dalam literatur medis, risiko malposisi dilaporkan berkisar antara 0,3–15%, sementara komplikasi pneumotoraks terjadi pada sekitar 1,2% kasus. Salah satu kasus tragis yang menjadi latar belakang penting inovasi ini terjadi pada September 2009. Seorang pasien perempuan dengan sepsis berat dan penurunan kesadaran (GCS 4) harus dipasangkan NGT untuk pemberian makan dan obat. Tanpa disadari, selang masuk ke paru-paru. Pasien tersebut meninggal hanya 30 menit setelah pemasangan akibat komplikasi yang terjadi. Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa kesalahan sederhana dalam prosedur umum sekalipun dapat berakibat fatal. 

Berangkat dari masalah inilah, tim peneliti Universitas Indonesia— Prof. Dr. dr. Neng Tine Kartinah, M.Kes., dan Ns. Sigit M. Nuzul, S.Kep., M.Biomed. Dari FKUI dan Dr. Rambat Lupiyoadi dari FEB UI,—mengembangkan Safe Nasogastric Tube (SNGT), sebuah inovasi yang dirancang untuk meminimalkan risiko malposisi dan meningkatkan keselamatan pasien. SNGT adalah selang lambung yang dilengkapi dengan kantung udara di pangkal selang yang dapat dibuka dan ditutup. Kantung udara ini memiliki tiga fungsi utama: sebagai pendeteksi posisi selang, pelindung pangkal selang, dan komponen tambahan yang tetap ekonomis. Prinsip kerjanya sederhana namun efektif: jika kantung udara bergerak mengikuti pernapasan, selang berarti masuk ke saluran pernapasan; jika kantung tetap statis, selang berada di saluran pencernaan. Dengan kemampuan deteksi real-time, SNGT memungkinkan tenaga medis mengetahui kesalahan posisi sejak awal pemasangan, tanpa harus menunggu seluruh selang masuk. Hal ini memberi waktu untuk segera menarik kembali selang sebelum terjadi cedera serius. 

Penelitian pra-klinis dilakukan menggunakan tiga ekor Macaca fascicularis jantan (usia > 4 tahun, berat 3–5 kg) yang dibagi dalam tiga kelompok: SNGT dengan kantung udara 50% volume tidal, SNGT dengan kantung udara 100% volume tidal, dan NGT konvensional. Hasilnya, SNGT 50% volume tidal memiliki sensitivitas dan spesifisitas 100% dalam mendeteksi posisi selang, sementara SNGT 100% volume tidal memiliki sensitivitas 100% dan spesifisitas 87,5%. Uji tambahan menunjukkan pepsin test lebih sensitif (100%) dibandingkan kertas pH (91,66%) dalam memastikan ujung selang berada di lambung. SNGT dirancang untuk berbagai kelompok pasien, termasuk pasien tidak sadar, pasien dengan gangguan menelan seperti penderita kanker, pasien gawat darurat di ICU atau UGD, bayi prematur, hingga pasien pasca operasi tertentu. Potensi pasar awal yang menjanjikan adalah fasilitas kesehatan kelas A dan segmen menengah atas yang lebih mengutamakan manfaat dibandingkan harga. 

Gambar 1: Safe Nasogastric Tube (SNGT) 

Dr. Rambat Lupiyoadi sebagai anggota tim yang telah melakukan market research dan feasibility study tentang produk ini, menyampaikan optimisme tim pengembang terhadap masa depan SNGT. “Dalam jangka pendek tahun ini kami ingin mengembangkan prototipe SNGT yang sesuai standar produksi alat kesehatan dengan memasukkan beberapa pengembangan yang sesuai dengan hasil uji coba dan validasi pasar yang telah kami lakukan. Beberapa pengembangan yaitu membuat ujung selang menjadi lebih lembut dengan mengatur komposisi bahan, membuat kantung udara menjadi lebih mudah mengembang dan mengempis, dan melakukan uji pada bahan yang digunakan dalam pembuatan selang. Uji yang dilakukan berupa uji toksisitas, uji pirogen, dan uji sterilisasi. Selanjutnya dilakukan uji/validasi pasar guna memastikan prototipe industri telah mencapai Minimum Viable Product (MVP). Kami sudah melakukan penjajakan dengan mitra industri PT. Anara Medical Indonesia (AMI), dan mereka siap mendukung dengan kapasitas produksi SNGT sekitar 400.000 unit per bulan.” 

Gambar 2: Prototipe dan Prosedur SNGT 

 

Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi (DIRBT) UI, Chairul Hudaya, Ph.D., juga memberikan apresiasinya terhadap pencapaian ini. “SNGT adalah contoh nyata bagaimana inovasi dari perguruan tinggi dapat menjawab permasalahan riil di lapangan, menyelamatkan nyawa, sekaligus membuka peluang besar di industri alat kesehatan. Universitas Indonesia akan terus mendukung proses hilirisasi agar produk ini dapat segera diproduksi massal dan dimanfaatkan di fasilitas kesehatan, baik di dalam negeri maupun untuk pasar global.” 

Dengan penyempurnaan desain menuju purwarupa beta dan uji klinis, SNGT diharapkan menjadi standar baru pemasangan selang lambung yang lebih aman, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat internasional. 

Penulis M. Iqram